^ Ke Atas
 
HEADLINE:
2020-11-29 09:52:56 - PEMBANGUNAN KANTIN SMANSI <0> 2018-01-29 21:49:54 - SYUKURAN AKREDITASI <0> 2018-04-01 07:46:33 - PEMBUKAAN GELORASI 2018 <0> 2018-01-30 08:30:40 - PEMBANGUNAN TAMAN DAN KOLAM IKAN <0> 2018-09-22 11:01:00 - BUKA PUASA ASYURA 2018 <0>
 

BERITA FOTO

2020-11-29 : IHT 2020

2020-11-29 : PEMBANGUNAN KANTIN SMANSI

Pembangunan kantin Sehat SMAN 1 Sindangbarang

Anda berada di: Depan > DATABASE > PENGUATAN INTEGRITAS AKAR DARI PENDIDIKAN ITU PAHIT TETAPI BUAHNYA MANIS OLEH ELIS SULASTRI S.PD GURU BAHASA INGGRIS UMUM KELAS X DAN INGGRIS LM KELAS XII IPA TAHUN PELAJARAN 20202021
PENGUATAN INTEGRITAS: AKAR DARI PENDIDIKAN ITU PAHIT, TETAPI BUAHNYA MANIS OLEH: ELIS SULASTRI, S.Pd (Guru Bahasa Inggris Umum Kelas X Dan Inggris LM Kelas XII IPA Tahun Pelajaran 2020/2021)
Diposting pada: 2020-11-27 12:59:02 | Hits : 74 | Kategori: Pendidikan
 

Assalamualaikum Wr.Wb

Bapak/Ibu Guru SMAN 1 Sindangbarang yang berbahagia, izinkan saya memposting sedikit artikel saya.

Cukuplah bekal bagi kita sebagai guru untuk memahami dan menyadari bahwa integritas adalah pakaian seorang guru. Kini saatnya kita untuk mengaktualisasikan integritas dalam seluruh aspek kehidupan, sepanjang hayat dikandung badan. Yakinlah bahwa prinsip hidup berintegritas merupakan jalan untuk menjalani profesi guru dengan penuh kebahagiaan dan kenikmatan. Godaannya akan sangat berat dan beragam, karena semua perilaku baik memang selalu diuji. Apakah kepribadian baik itu tulus sesuai karakter dan jati diri, atau hanya kamuflase. Tanpa ujian berat, integritas seseorang belum bisa dipastikan. Semakin gelap keadaan yang harus kita rubah maka semakin bermakna pula keberadaan kita di sana.

Pengenalan diri sebagai seorang guru akan membantu guru untuk mempertahankan integritas yang ia yakini. Pengenalan yang pertama adalah pengenalan diri sebagai ciptaan yang terbatas akan membantu guru untuk tetap rendah hati serta mencari hikmat dan pengertian dengan tetap takut akan Tuhan. Kesadaran manusia sebagai ciptaan juga menuntut manusia melakukan segala sesuatunya hanya untuk memuliakan nama Allah, apakah yang dapat dilakukan ciptaan kepada Penciptanya yang selalu setia untuk membaharuinya dari hari ke hari. Pengenalan yang kedua adalah pengenalan diri sebagai pribadi, Allah menciptakan manusia sebagai pribadi yang bebas untuk menentukan pilihan dengan konsekuensi- konsekuensi yang ada di dalamnya. Tetapi tidak terlepas dari manusia ciptaan yang diselamatkan, Allah juga meminta kita untuk mengerjakan keselamatan kita.

Panggilan, pengenalan terhadap diri (filsafat diri) dan komitmen akan menghasilkan sebuah integritas bagi seorang guru. Integritas yang dapat memulihkan dan menuntun anak ke arah yang benar, integritas yang mampu membawa pembaharuan budi dalam diri setiap anak. Dan semua ini dapat terjadi hanya oleh Allah yang turut bekerja di dalamnya.

Penemuan dan kesadaran diri ini akan menjadi modal bagi guru untuk mempertahankan integritasnya dan menjadi dirinya sendiri secara utuh, sesuai harkat kemanusiaannya.

Guru hendaknya bisa menjadikan dirinya sebagai model bagi para siswanya sehingga mereka bisa mengikuti perilaku terpuji yang ditunjukkan oleh guru-gurunya.

Profesi guru sangat identik dengan peran mendidik seperti membimbing, membina, mengasuh ataupun mengajar. Ibarat sebuah contoh lukisan yang akan ditiru oleh anak didiknya. Baik buruk hasil lukisan tersebut tergantung dari contonya. Guru (digugu dan ditiru)  otomatis menjadi teladan. Melihat peran tersebut, sudah menjadi kemutlakan bahwa guru harus memiliki integritas dan personaliti yang baik dan benar. Hal ini sangat mendasar, karena tugas guru bukan hanya mengajar (transfer knowledge) tetapi juga menanamkan nilai-nilai dasar dari bangun karakter atau akhlak anak.

Keteladanan seorang guru adalah segala yang dapat diberikan untuk keberhasilan anak didiknya. Inilah aktualisasi dari sosok seorang yang memiliki integritas tinggi, yang akan senantiasa berpikir dan memikirkan apa yang dapat diberikan untuk anak didiknya sebelum memikirkan apa yang akan didapat. Memberi lebih penting sebelum menerima

Evaluasi dan intropeksi diri adalah salah satu karakter guru sejati. Karenanya sebagai seorang yang berintegritas tinggi, tentunya guru akan bertidak berdasarkan kebenaran atau ketidakbenaran, bukan beradasarkan menang atau kalah di dalam proses pengajarannya. Pemimpin yang benar dan berintegritas adalah yang menyadari saat dirinya salah, bukan yang selalu menang meski dirinya salah.

Akar dari pendidikan itu pahit, tetapi buahnya manis. Dan Guru yang berintegritas tinggi akan selalu memiliki harapan pada hasil pendidikan, yaitu menggantikan pikiran-pikiran yang kosong dengan pikiran yang terbuka dan dinamis.

Maka dari itu ini merupakan refleksi dari kegiatan belajar Penguatan Integritas

  • Guru adalah manusia yang terpanggil untuk mengusir kegelapan bagi lingkungannya. Sebagai penerang, maka sosok guru sendiri haruslah terang. Dia adalah murid pertama dari kebaikan yang ia ajarkan;Integritas merupakan konsistensi atau kesesuaian antara suara hati nurani sebagai kebenaran, pola pikir untuk hidup benar, tekad yang kuat untuk mewujudkan hidup benar, ucapan yang terungkap, dan perilaku yang ditampilkan;
  • Kunci dari proses penguatan integritas adalah ketika setiap guru memahami, meyakini, dan mengamalkan perilaku berintegritas bagi dirinya dan kemudian menjadi teladan dan inspirasi bagi peserta didik dan lingkungannya;
  • Integritas pada dasarnya sudah ada dalam diri setiap manusia. Tugas guru adalah menguatkan nilai karakter penguat integritas yang ada dalam diri setiap manusia, sehingga makin kokoh.
  • Menjadi pribadi berintegritas memberi manfaat untuk pribadi dan berdampak sosial. Jadi bukan ditujukan untuk memperbaiki di luar diri;
  • Guru memiliki peran sebagai lokomotif dalam perbaikan moral bangsa dengan melakukan penguatan integritas dimulai dari dirinya, dan meluaskan kepada peserta didik dan lingkungannya;
  • Melihat kondisi sekolah saat ini, maka untuk melakukan penguatan integritas perlu upaya yang tidak biasa dengan cara pandang yang berbeda. Guru perlu memiliki keyakinan yang kuat dan kerja keras mewujudkannya;
  • Penguatan integritas adalah hal paling mendasar dalam pendidikan yang mutlak dilakukan oleh seluruh guru, apakah ia guru kelas, guru mata pelajaran, konselor, atau warga sekolah dewasa lainnya.
  • Perilaku berintegritas bersumber dari dorongan keyakinan yang kuat. Tahapan penguatan dilakukan dengan pemahaman, penyadaran, menguatkan keyakinan, pengamalan dan pembiasaan yang konsisten dan deklarasi. Tahapan tidak perlu berurut melainkan dapat berlangsung simultan;
  • Penguatan integritas dapat dilakuan dalam beragam aktivitas yang utamanya memunculkan pemahaman, penyadaran, penguatan keyakinan, dan praktek pembiasaan atas kesadaran sendiri.
  • Dua hal utama dalam penguatan integritas adalah “mewujudkan suasana berintegritas baik di kelas dan sekolah, dalam jangkauan kendali guru” dan “melakukan penguatan integritas dalam semua aktivitas pembelajaran baik dalam tema, mata pelajaran, proyek, ekstrakurikuler, dan aktivitas lainnya.
  • Perencanaan penguatan integritas mutlak dilakukan sendiri oleh guru dan bukan menjiplak. Perencanaan mengacu pada kondisi peserta didik, kondisi satuan pendidikan dan konteks lokal.
  • Penguatan integritas harus didokumentasikan, dengan melakukan pencatatan data otentik mengenai dua hal: (1) memastikan bahwa proses berjalan atau tidak, konsisten atau tidak; (2) memastikan bahwa perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses yang dilakukan mengalami perkembangan atau sebaliknya.
  • Penguatan integritas dimulai dengan komitmen diri yang dilakukan secara bersama-sama;
  • Perlu upaya kreatif untuk membangun komitmen diri yang sesuai dengan kondisi peserta didik dan lingkungan;
  • Komitmen diri secara bersama-sama ini diperlukan untuk mewujudkan suasana berintegritas yang konsisten;
  • Mewujudkan suasana berintegritas diawali dengan guru sebagai role model;
  • Membangun budaya berintegritas melalui tripusat pendidikan, diawali dari kelas, sekolah, keluarga dan lingkungan.
  • Ruang kerja guru ada dalam alam pikiran, rasa, dan hati manusia
  • Pendidikan merupakan jalan bagi kita untuk menyadari bahwa Tuhan berada di tempat terpenting dalam diri kita.
  • Semua ilmu pengetahuan menjadi jembatan bagi manusia untuk menuju tempat terpenting itu, tempat di mana Tuhan berada, di dalam diri kita.
  •  Pikiran negatif yang sengaja kita munculkan itu menjadi tindakan sadar kita untuk membangun tatanan dan sistem koordinasi yang akan mengantarkan pesan-pesan negatif itu ke seluruh tubuh kita.
  • Jika berpikiran positif maka semua unsur dalam diri kita akan membentuk konfigurasi yang positif, dan konfigurasi itu menghasilkan koordinasi yang positif dan akhirnya akan melahirkan hal-hal positif yang akan mengantarkan kita pada kedudukan sebagai makhluk paling mulia di antara makhluk yang diciptakan oleh Tuhan.
  • Kemuliaan seorang guru selalu menebar kebaikan tanpa pernah memikirkan keuntungan apa yang akan diperolehnya sebagai imbalan dari kebaikannya itu.
  • Hasil penilaian akan memastikan apakah rencana pembelajaran mengarah kepada pencapaian kompetensi, selanjutnya juga akan membuktikan apakah pembelajaran sesuai dengan perencanaan.
  • Penilaian berfungsi sebagai alat bantu untuk menelusuri hal-hal yang terjadi (perkembangan atau kemunduran) yang dialami oleh setiap peserta didik di sepanjang proses belajar.

Demikiianlah sedikit saya sampaikan mengenai Penguatan Integritas, semoga bermanfaat. Wassalamuallaikum Wr.Wb.

Referensi:

Modul Penguatan Integritas (Modul Belajar Mandiri Bagi Program PPG Angkatan 2 Tahun 2020)

 

 

Posting Lainnya:

KOMENTAR

« Kembali

MUTIARA HADIST
Hebatnya Shalat 5 Waktu :
Dari Abu Hurairah R.a. Berkata: Saya Telah Mendengar Rasulullah Saw Bersabda, Bagaimanakah Pendapatmu Seumpama Ada Sebuah Sungai Di Muka Pintu Salah Seorang Dari Kamu, Lalu Ia Mandi Daripadanya Setiap Hari Lima Kali, Apakah Masih Ada Tertinggal Kotorannya?" Para Sahabat Menjawab, "Tidak." Nabi Saw Bersabda, "Maka Demikianlah Shalat Lima Waktu, Allah Akan Menghapuskan Dosa-dosa Dengannya."